Benarkah Akita Kurang Penyayang? Penelitian Membandingkannya dengan Labrador
Berita Anjing

Benarkah Akita Kurang Penyayang? Penelitian Membandingkannya dengan Labrador

17 Jul 2026 8 min read

Isi Berita

Penelitian 2024 membandingkan hormon dan perilaku anak Akita dengan Labrador. Hasilnya mengungkap perbedaan cara kedua ras mengekspresikan keterikatan kepada manusia, bukan menentukan mana yang lebih penyayang.

Akita sering digambarkan sebagai anjing yang tenang, mandiri, dan tidak terlalu demonstratif dalam menunjukkan kasih sayang. Sebaliknya, Labrador Retriever dikenal ramah, ekspresif, suka bermain, dan mudah membangun interaksi dengan manusia. Perbedaan tersebut membuat sebagian orang menganggap Akita kurang penyayang. Namun, sebuah penelitian ilmiah pada 2024 menunjukkan bahwa cara kedua ras mengekspresikan kedekatan memang berbeda dan tidak dapat dinilai hanya dari seberapa aktif seekor anjing mencari perhatian.

Penelitian berjudul Attachment-like behavioral expressions to humans in puppies are related to oxytocin and cortisol: A comparative study of Akitas and Labrador Retrievers diterbitkan dalam jurnal Peptides, Volume 177, pada Juli 2024. Para peneliti membandingkan kadar hormon dalam urine dan perilaku anak Akita serta Labrador ketika berinteraksi dengan manusia.

Penelitian Membandingkan 46 Akita dan 61 Labrador

Penelitian ini melibatkan 46 anak Akita dan 61 anak Labrador Retriever. Seluruh anjing masih berusia antara 42 hingga 56 hari, atau sekitar 6–8 minggu. Anak-anak Akita dibesarkan di lingkungan breeder, sedangkan Labrador berasal dari fasilitas pembiakan Japan Guide Dog Association.

Para peneliti mengukur dua hormon utama dalam urine, yaitu kortisol dan oksitosin. Kortisol sering dikaitkan dengan respons tubuh terhadap tekanan, aktivitas, atau perubahan lingkungan. Sementara itu, oksitosin banyak dipelajari karena perannya dalam hubungan sosial, rasa aman, pengenalan individu, dan pembentukan ikatan.

Selain pemeriksaan hormon, anak-anak anjing mengikuti Strange Situation Test atau SST. Metode ini digunakan untuk mengamati bagaimana anjing bereaksi ketika berada di tempat baru, bertemu orang asing, berpisah sementara dari pengasuh, dan kembali bertemu dengan orang yang dikenalnya.

> Penelitian ini mengamati anak anjing yang sangat muda. Temuannya membantu menjelaskan tahap awal perkembangan perilaku sosial, tetapi tidak berarti semua Akita atau Labrador dewasa pasti memiliki karakter yang sama.

Labrador Menunjukkan Lebih Banyak Perilaku Mirip Keterikatan

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa Labrador Retriever lebih sering memperlihatkan perilaku yang oleh peneliti dikategorikan sebagai perilaku bermain dan perilaku mirip keterikatan kepada manusia. Labrador cenderung lebih aktif melakukan pendekatan, berinteraksi, dan menunjukkan respons sosial yang mudah diamati.

Akita, di sisi lain, lebih sering menunjukkan perilaku eksploratif dan pasif. Mereka tampak lebih tertarik mengamati atau menjelajahi lingkungan dibandingkan terus-menerus mencari interaksi langsung dengan manusia.

Perbedaan ini dapat membantu menjelaskan mengapa Labrador sering terlihat lebih ramah dan ekspresif. Bahasa tubuhnya lebih mudah dibaca oleh kebanyakan orang karena perilaku mendekat, bermain, mengikuti, dan mencari perhatian terlihat jelas.

Namun, hasil tersebut tidak membuktikan bahwa Akita tidak mampu menyayangi manusia. Penelitian mengukur ekspresi perilaku pada kondisi tertentu, bukan kedalaman emosi yang dirasakan anjing. Anjing yang lebih tenang atau mandiri dapat membangun hubungan kuat tanpa menunjukkan perilaku yang sama dengan ras yang lebih aktif dan terbuka.

Kadar Kortisol Akita Lebih Tinggi

Peneliti menemukan kadar kortisol urine yang secara signifikan lebih tinggi pada kelompok Akita dibandingkan Labrador. Temuan ini diperkirakan berkaitan dengan perbedaan respons biologis antarras dan latar belakang genetik Akita sebagai salah satu ras kuno yang secara genetik dianggap lebih dekat dengan nenek moyang anjing.

Meski kortisol sering disebut sebagai hormon stres, angka yang lebih tinggi tidak boleh langsung diterjemahkan sebagai tanda bahwa Akita selalu takut, tertekan, atau tidak bahagia. Kortisol juga dipengaruhi aktivitas tubuh, kondisi lingkungan, perkembangan usia, dan respons individual.

Dalam penelitian ini, hubungan antara kortisol dan perilaku tidak selalu sama pada kedua ras. Pada Labrador, kadar kortisol lebih mencerminkan perbedaan aktivitas fisik antarindividu daripada sekadar respons terhadap situasi sosial.

Karena itu, hasil pemeriksaan hormon harus dibaca bersama perilaku yang terlihat, kondisi pemeliharaan, dan karakter setiap anjing. Satu ukuran biologis tidak cukup untuk menyimpulkan sifat emosional seekor anjing secara keseluruhan.

Oksitosin Akita dan Labrador Tidak Berbeda Signifikan

Salah satu temuan paling menarik adalah tidak adanya perbedaan signifikan pada kadar oksitosin antara Akita dan Labrador. Labrador memang menunjukkan kecenderungan kadar oksitosin yang lebih tinggi, tetapi perbedaannya tidak cukup kuat secara statistik untuk menyatakan kedua ras benar-benar berbeda dalam hal tersebut.

Temuan ini penting karena oksitosin sering diasosiasikan dengan kedekatan dan ikatan sosial. Apabila Akita benar-benar tidak mampu membangun hubungan dekat dengan manusia, peneliti mungkin mengharapkan adanya perbedaan oksitosin yang jauh lebih tegas. Kenyataannya, hubungan antara hormon, genetik, pengalaman, dan perilaku ternyata lebih kompleks.

Pada kelompok Labrador, kadar oksitosin berhubungan dengan beberapa perilaku mirip keterikatan. Akan tetapi, pola hubungan hormon dan perilaku tidak muncul dengan bentuk yang sama pada Akita. Hal ini menunjukkan bahwa setiap ras mungkin memiliki cara berbeda dalam mengembangkan dan mengekspresikan hubungan sosialnya.

Mengapa Akita Sering Dianggap Dingin?

Akita dikenal sebagai anjing yang memiliki pembawaan bermartabat, tenang, waspada, dan relatif mandiri. Mereka biasanya tidak seantusias Labrador ketika menyambut semua orang. Akita juga cenderung lebih selektif dalam membangun kepercayaan dan dapat bersikap menjaga jarak terhadap orang yang belum dikenalnya.

Beberapa alasan Akita kerap dianggap dingin antara lain:

  • Tidak selalu mencari perhatian atau sentuhan secara terus-menerus.
  • Lebih sering mengamati situasi sebelum melakukan pendekatan.
  • Cenderung selektif terhadap orang asing.
  • Menunjukkan emosi dengan gerakan yang lebih halus.
  • Tidak selalu tertarik bermain dengan semua orang atau anjing lain.

Bagi pemilik yang terbiasa dengan Labrador atau Golden Retriever, perilaku Akita mungkin terasa kurang responsif. Padahal, pendekatan tenang, memilih berada dekat pemilik, mengikuti dari jarak tertentu, atau tetap waspada terhadap lingkungan dapat menjadi bagian dari cara Akita menunjukkan keterikatan.

Cara Akita Menunjukkan Kesetiaan dan Kasih Sayang

Kasih sayang pada anjing tidak selalu terlihat melalui jilatan, lompatan, atau ajakan bermain. Akita dapat menunjukkan kedekatannya dalam bentuk yang lebih terkendali. Pemilik perlu memperhatikan bahasa tubuh dan kebiasaan kecil yang muncul secara konsisten.

Beberapa tanda Akita merasa dekat dan percaya kepada pemiliknya meliputi:

  • Memilih beristirahat di ruangan yang sama dengan pemilik.
  • Mengikuti pemilik tanpa terus-menerus meminta perhatian.
  • Menyambut dengan ekor, telinga, dan postur tubuh yang rileks.
  • Membiarkan tubuhnya disentuh pada area yang sebelumnya sensitif.
  • Mencari pemilik ketika menghadapi situasi asing.
  • Menunjukkan kewaspadaan terhadap perubahan di sekitar keluarga.
  • Bersedia melakukan kontak mata singkat dengan ekspresi tenang.

Kesetiaan Akita lebih tepat dipahami sebagai hubungan yang dibangun melalui rasa percaya. Mereka dapat sangat dekat dengan keluarganya, tetapi tidak selalu memperlakukan orang asing dengan kehangatan yang sama.

Labrador Lebih Mudah Dibaca oleh Manusia

Labrador telah lama dikembangkan sebagai anjing pekerja yang mampu berkolaborasi dengan manusia. Sifat ramah, motivasi bermain, kemampuan belajar melalui hadiah, dan kecenderungan mencari interaksi membuat Labrador cocok menjadi anjing keluarga, anjing pemandu, anjing terapi, serta anjing pekerja lainnya.

Perilaku sosial Labrador yang terbuka membuat manusia lebih mudah mengenali saat anjing merasa senang, ingin bermain, membutuhkan dukungan, atau mencari perhatian. Inilah salah satu alasan Labrador sering dianggap lebih penyayang.

Akita tidak selalu memberikan sinyal sosial sejelas Labrador. Karena itu, pemilik Akita membutuhkan pemahaman yang lebih baik mengenai perubahan postur, arah pandangan, posisi telinga, ketegangan tubuh, dan toleransi terhadap sentuhan.

Pentingnya Memahami Bahasa Tubuh Setiap Ras

Membandingkan Akita dan Labrador tidak seharusnya digunakan untuk menentukan ras mana yang lebih baik. Perbandingan ini justru menunjukkan bahwa perilaku kasih sayang tidak memiliki satu bentuk yang berlaku untuk semua anjing.

Pemilik perlu menghindari memaksa Akita untuk berinteraksi seperti Labrador. Memeluk terlalu erat, mendekatkan wajah, atau terus menyentuh anjing yang sedang meminta ruang dapat menimbulkan ketidaknyamanan. Hubungan yang sehat dibangun dengan menghormati batas anjing, memberikan sosialisasi bertahap, dan menciptakan pengalaman positif.

Pada saat yang sama, sifat ramah Labrador juga tidak berarti semua Labrador otomatis mudah dipelihara. Labrador muda dapat sangat aktif, mudah terlalu bersemangat, membutuhkan latihan, dan tetap memerlukan aturan yang konsisten.

Penelitian Ini Tidak Menentukan Semua Karakter Akita

Ada beberapa batasan penting yang perlu dipahami sebelum menarik kesimpulan. Subjek penelitian masih berupa anak anjing berusia 6–8 minggu dan berasal dari dua lingkungan pembiakan yang berbeda. Pada usia tersebut, perilaku keterikatan masih berkembang dan pengalaman bersama manusia masih terbatas.

Peneliti juga menyatakan bahwa anak-anak anjing menunjukkan ketertarikan umum dan perilaku mendekati manusia, tetapi belum sepenuhnya memperlihatkan keterikatan kepada satu figur tertentu sebagai sumber rasa aman. Hubungan antara oksitosin dan komponen perilaku dipandang sebagai bagian dari tahap perkembangan awal keterikatan.

Karakter anjing dewasa nantinya dapat dipengaruhi banyak faktor, termasuk:

  • Genetik dan garis keturunan.
  • Sosialisasi sejak usia dini.
  • Pengalaman bersama manusia dan hewan lain.
  • Metode pelatihan.
  • Kondisi kesehatan.
  • Lingkungan tempat tinggal.
  • Kepribadian individual.

Dengan demikian, penelitian ini tidak dapat digunakan untuk memberi label bahwa semua Akita dingin atau semua Labrador lebih mencintai pemiliknya.

Jadi, Benarkah Akita Kurang Penyayang?

Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Penelitian tersebut menemukan bahwa anak Labrador menunjukkan lebih banyak perilaku bermain dan perilaku mirip keterikatan yang mudah diamati, sedangkan anak Akita cenderung lebih eksploratif dan pasif. Akan tetapi, kadar oksitosin kedua ras tidak berbeda secara signifikan.

Temuan tersebut lebih tepat dimaknai sebagai bukti bahwa Akita dan Labrador memiliki pola ekspresi sosial yang berbeda. Labrador cenderung menunjukkan kedekatan secara terbuka, sedangkan Akita dapat mengekspresikannya dengan lebih tenang, selektif, dan halus.

Bagi calon pemilik, hal terpenting bukan mencari anjing yang terlihat paling penyayang, melainkan memilih ras yang karakter, kebutuhan aktivitas, cara berkomunikasi, dan tingkat kemandiriannya sesuai dengan gaya hidup keluarga. Dengan sosialisasi, pelatihan positif, serta pemahaman bahasa tubuh yang baik, Akita dapat membangun ikatan yang kuat dan setia dengan manusia yang dipercayainya.

Sumber penelitian: ScienceDirect — Peptides, Volume 177, 171224 dan PubMed.

Kembali ke Daftar Berita Kembali ke Home
Hubungi Customer Service
CS Agung Yudhi
Agung Yudhi

+6285857883435

Status: Available