Peneliti Cari Penyebab Genetik Penyakit Kulit yang Sering Menyerang Akita
Berita Anjing

Peneliti Cari Penyebab Genetik Penyakit Kulit yang Sering Menyerang Akita

17 Jul 2026 10 min read

Isi Berita

Peneliti UC Davis membandingkan sampel genetik Akita sehat dan penderita sebaceous adenitis serta VKH untuk mencari faktor risiko penyakit kulit dan gangguan autoimun pada ras ini.

Akita dikenal sebagai anjing bertubuh kuat dengan bulu ganda yang tebal dan penampilan berwibawa. Namun, di balik ciri fisiknya yang khas, ras ini memiliki risiko terhadap sejumlah gangguan kulit dan penyakit yang diduga berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh. Peneliti dari Veterinary Genetics Laboratory UC Davis mengumpulkan data genetik Akita sehat serta Akita yang mengalami sebaceous adenitis dan penyakit Vogt-Koyanagi-Harada untuk mencari kemungkinan hubungan genetik dan faktor risikonya.

Penelitian tersebut penting karena gangguan kulit pada Akita tidak selalu sekadar masalah kosmetik. Kerontokan bulu, kulit bersisik, perubahan warna kulit, luka, dan infeksi sekunder dapat menurunkan kualitas hidup anjing. Bagi breeder, temuan genetik juga berpotensi membantu penyusunan program perkawinan yang lebih sehat pada masa depan.

UC Davis Meneliti Keragaman Genetik Akita

Veterinary Genetics Laboratory atau VGL di University of California, Davis, menjalankan pengujian keragaman genetik pada Akita. Program tersebut menggunakan penanda genetik untuk menilai variasi pada seluruh genom serta wilayah Dog Leukocyte Antigen atau DLA kelas I dan II.

DLA merupakan bagian dari sistem kekebalan yang berperan dalam mengenali jaringan tubuh sendiri dan benda asing. Gangguan pada proses pengenalan tersebut, bersama faktor lingkungan dan faktor non-genetik lainnya, dapat berhubungan dengan munculnya penyakit autoimun.

Dalam proyek yang didukung Akita Club of America, peneliti menargetkan pengumpulan sampel dari Akita yang terkena sebaceous adenitis atau SA dan Vogt-Koyanagi-Harada atau VKH. Sampel anjing yang sakit kemudian dibandingkan dengan data Akita sehat untuk melihat apakah terdapat pola genetik, hubungan tertentu, atau faktor risiko yang lebih sering muncul pada kelompok penderita.

Penelitian ini terbuka untuk berbagai jenis Akita, termasuk Japanese Akita dan American Akita. UC Davis sebelumnya juga mengonfirmasi bahwa kedua varietas tersebut dapat dibedakan secara genetik, sementara sebagian anjing memiliki komposisi campuran yang berada di antara keduanya.

Apa Itu Sebaceous Adenitis pada Akita?

Sebaceous adenitis adalah penyakit peradangan yang merusak kelenjar sebaceous atau kelenjar minyak pada kulit. Kelenjar tersebut menghasilkan sebum yang membantu menjaga kelembapan kulit dan kondisi batang rambut.

Ketika kelenjar minyak mengalami peradangan dan kerusakan, kulit kehilangan sebagian perlindungan alaminya. Akibatnya, bulu dapat menjadi kering dan rapuh, kulit bersisik, serta kerontokan dapat muncul pada berbagai bagian tubuh.

Penyakit ini dapat terjadi pada beberapa ras anjing, tetapi Akita termasuk ras yang sering dikaitkan dengan risiko lebih tinggi. Tingkat keparahannya dapat berbeda pada setiap anjing. Ada Akita yang menunjukkan perubahan ringan pada tekstur bulu, sedangkan anjing lain mengalami kerontokan luas, bau kulit, rasa tidak nyaman, atau infeksi sekunder.

> Sebaceous adenitis tidak dapat dipastikan hanya dari penampilan bulu. Diagnosis yang tepat membutuhkan pemeriksaan dokter hewan dan sering kali memerlukan biopsi kulit.

Gejala Awal yang Perlu Diperhatikan Pemilik

Perubahan bulu pada Akita dapat disebabkan oleh pergantian bulu normal, parasit, alergi, infeksi, gangguan hormon, kekurangan nutrisi, maupun penyakit kulit lainnya. Meski demikian, beberapa tanda berikut layak diperiksakan apabila berlangsung terus-menerus atau semakin parah:

  • Sisik putih atau kekuningan yang menempel pada kulit dan batang rambut.
  • Bulu terlihat kusam, kering, kasar, atau mudah patah.
  • Kerontokan yang tidak merata atau membentuk area botak.
  • Gumpalan rambut yang terlepas bersama lapisan sisik.
  • Bau kulit yang tidak biasa.
  • Kulit menggelap, menebal, atau mengalami perubahan tekstur.
  • Muncul luka, kemerahan, rasa gatal, atau infeksi berulang.
  • Perubahan bulu yang lebih jelas pada kepala, telinga, punggung, atau ekor.

Akita memang mengalami pelepasan bulu bawah secara intens pada waktu tertentu. Namun, pergantian bulu normal biasanya tidak disertai peradangan berat, sisik tebal, bau menyengat, luka, atau infeksi yang berulang.

Penyakit Vogt-Koyanagi-Harada pada Akita

Selain sebaceous adenitis, penelitian UC Davis juga melibatkan Akita dengan penyakit Vogt-Koyanagi-Harada. Pada anjing, kondisi ini sering disebut uveodermatologic syndrome atau sindrom uveodermatologis.

Penyakit tersebut merupakan gangguan yang melibatkan respons imun terhadap sel penghasil pigmen atau melanosit. Dampaknya dapat terlihat pada mata dan kulit. Gejala mata dapat berupa kemerahan, nyeri, sensitivitas terhadap cahaya, kekeruhan, atau gangguan penglihatan. Pada kulit, pemilik dapat melihat hilangnya pigmen, terutama di sekitar hidung, bibir, kelopak mata, dan bagian tubuh tertentu.

Gangguan mata pada kondisi ini perlu dianggap serius karena peradangan dapat berkembang cepat dan mengancam penglihatan. Perubahan warna hidung yang tampak sederhana tidak boleh langsung dianggap VKH, tetapi pemeriksaan dokter hewan diperlukan bila depigmentasi disertai masalah mata atau perubahan kesehatan lainnya.

Mengapa Akita Diduga Memiliki Risiko Lebih Tinggi?

Belum ada satu jawaban sederhana yang menjelaskan mengapa penyakit ini muncul pada Akita. Penelitian genetik dilakukan justru karena penyakit kompleks biasanya melibatkan kombinasi banyak faktor.

Beberapa kemungkinan yang sedang dipelajari meliputi:

  • Variasi gen yang mengatur respons kekebalan tubuh.
  • Tingkat keragaman genetik dalam populasi.
  • Kombinasi DLA tertentu yang mungkin lebih sering ditemukan pada anjing sakit.
  • Riwayat perkawinan dan kedekatan hubungan antargaris keturunan.
  • Pemicu lingkungan, infeksi, hormon, nutrisi, atau faktor lain yang belum sepenuhnya dipahami.

Memiliki faktor risiko genetik tidak selalu berarti seekor Akita pasti akan sakit. Sebaliknya, anjing tanpa riwayat penyakit yang jelas juga belum tentu bebas dari seluruh variasi gen yang berkaitan dengan risiko. Karena itu, hasil penelitian perlu diterjemahkan secara hati-hati sebelum digunakan dalam keputusan breeding.

Hubungan Sistem Imun, Genetik, dan Kulit

Kulit merupakan bagian dari pertahanan tubuh. Selain menjadi penghalang fisik, kulit memiliki sel kekebalan, mikroorganisme normal, kelenjar minyak, folikel rambut, dan sistem peradangan yang saling berhubungan.

Pada penyakit yang dimediasi sistem imun, pertahanan tubuh dapat bereaksi secara tidak tepat terhadap jaringan sendiri. Dalam sebaceous adenitis, proses peradangan merusak kelenjar minyak. Pada sindrom uveodermatologis, respons imun terutama menyerang struktur yang berkaitan dengan melanosit.

Penanda DLA yang dianalisis UC Davis membantu peneliti melihat wilayah genetik yang mengatur pengenalan jaringan sendiri dan asing. Data tersebut tidak langsung menjadi diagnosis, tetapi dapat memberikan gambaran mengenai keragaman populasi dan kemungkinan pola yang membutuhkan penelitian lanjutan.

Temuan Vitamin D pada Japanese Akita

Penelitian terpisah yang diterbitkan pada 2020 mengukur konsentrasi 25-hydroxyvitamin D pada Japanese Akita. Studi tersebut melibatkan Akita sehat dan Akita dengan kondisi patologis. Para peneliti melaporkan bahwa kelompok dengan gangguan kesehatan memiliki kadar vitamin D yang lebih rendah daripada kelompok sehat. Kemunculan area kulit yang kehilangan pigmen juga dikaitkan dengan kadar vitamin D yang rendah dalam sampel penelitian.

Sebaceous adenitis menjadi penyakit yang paling banyak tercatat di antara Akita yang mengalami kondisi patologis dalam penelitian tersebut. Temuan ini menarik karena vitamin D mempunyai peran dalam fungsi imun, kesehatan kulit, dan berbagai proses biologis.

Namun, hubungan tidak sama dengan sebab-akibat. Studi tersebut belum membuktikan bahwa kadar vitamin D rendah menyebabkan sebaceous adenitis atau VKH. Penyakit, peradangan, pola makan, penyerapan nutrisi, kondisi tubuh, dan faktor lainnya dapat ikut memengaruhi kadar vitamin D.

Pemilik sebaiknya tidak memberikan suplemen vitamin D sendiri. Dosis berlebihan dapat berbahaya bagi anjing dan berpotensi menyebabkan keracunan, gangguan ginjal, serta peningkatan kadar kalsium. Pemeriksaan darah dan rekomendasi dosis harus dilakukan melalui dokter hewan.

Bagaimana Dokter Hewan Mendiagnosis Sebaceous Adenitis?

Diagnosis dimulai dengan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik. Dokter hewan perlu membedakan sebaceous adenitis dari penyakit lain yang dapat menimbulkan kerontokan serta kulit bersisik.

Pemeriksaan yang mungkin dilakukan antara lain:

  • Pemeriksaan kulit dan batang rambut.
  • Kerokan kulit untuk mencari tungau.
  • Pemeriksaan jamur atau bakteri.
  • Sitologi kulit.
  • Tes darah untuk menilai kondisi umum dan gangguan hormonal.
  • Biopsi kulit untuk melihat perubahan pada kelenjar sebaceous.

Biopsi kulit menjadi pemeriksaan penting untuk mendukung diagnosis SA. Sampel kecil dari beberapa area kulit diperiksa secara mikroskopis oleh ahli patologi veteriner.

Perawatan Membutuhkan Komitmen Jangka Panjang

Penanganan sebaceous adenitis disesuaikan dengan tingkat keparahan dan kondisi setiap anjing. Tujuannya adalah memperbaiki kondisi kulit, mengurangi sisik, mempertahankan kelembapan, serta mengendalikan infeksi sekunder.

Perawatan dapat melibatkan sampo khusus, pelembap, terapi minyak, obat untuk infeksi, asam lemak esensial, atau obat yang memodulasi respons imun. Sebagian anjing membutuhkan perawatan rutin sepanjang hidupnya.

Respons terhadap terapi dapat berbeda. Karena itu, pemilik perlu mengikuti evaluasi dokter hewan dan tidak menghentikan pengobatan hanya karena bulu mulai membaik.

Pemeriksaan Sebelum Mengawinkan Akita

Belum semua penyakit kompleks memiliki tes DNA tunggal yang dapat memastikan anjing bebas risiko. Meski begitu, breeder tetap dapat mengurangi risiko melalui pencatatan kesehatan dan pemilihan pasangan yang bertanggung jawab.

Sebelum mengawinkan Akita, breeder sebaiknya:

  • Menelusuri riwayat sebaceous adenitis, VKH, gangguan autoimun, dan penyakit kulit dalam garis keturunan.
  • Melakukan pemeriksaan kesehatan lengkap pada pejantan dan betina.
  • Mempertimbangkan pengujian keragaman genetik.
  • Menghindari perkawinan yang terlalu dekat.
  • Tidak mengawinkan anjing yang sedang mengalami penyakit aktif tanpa evaluasi dokter hewan.
  • Menyimpan catatan kesehatan anak anjing dan kerabatnya.
  • Bersikap terbuka kepada calon pemilik mengenai risiko kesehatan ras.

Tes keragaman genetik tidak sama dengan tes yang menyatakan seekor anjing pasti bebas SA atau VKH. Nilainya terletak pada informasi untuk mengelola variasi genetik dan menghindari penyempitan populasi secara berlebihan.

Mengapa Partisipasi Breeder Sangat Penting?

Penelitian penyakit genetik membutuhkan sampel dari anjing sakit dan sehat. Tanpa partisipasi breeder serta pemilik, peneliti sulit menemukan pola yang dapat membedakan kelompok penderita dari populasi pembanding.

Sampel anjing sehat juga sama pentingnya karena membantu menunjukkan variasi yang umum dan tidak selalu berkaitan dengan penyakit. Data silsilah, diagnosis yang dikonfirmasi, usia saat gejala muncul, serta informasi kerabat dapat meningkatkan nilai ilmiah sampel.

Program penelitian semacam ini bukan bertujuan menyalahkan breeder atau garis keturunan tertentu. Tujuannya adalah menyediakan pengetahuan yang lebih baik agar keputusan breeding pada masa depan dapat mempertahankan ciri khas Akita sekaligus memperhatikan kesehatannya.

Jangan Anggap Semua Kerontokan Bulu sebagai Penyakit Genetik

Bulu rontok pada Akita tidak otomatis berarti sebaceous adenitis. Akita memiliki bulu ganda dan dapat mengalami kerontokan musiman dalam jumlah besar. Masalah kutu, tungau, jamur, alergi, pola makan, stres, dan gangguan hormonal juga dapat menimbulkan gejala serupa.

Pemilik perlu memperhatikan pola dan gejala penyerta. Kerontokan yang disertai sisik tebal, rambut patah, bau kulit, infeksi, perubahan pigmen, luka, atau gangguan mata memerlukan pemeriksaan profesional.

Diagnosis mandiri berdasarkan foto di internet berisiko membuat perawatan terlambat atau salah sasaran.

Penelitian Genetik Membuka Harapan bagi Kesehatan Akita

Upaya UC Davis mengumpulkan dan membandingkan sampel genetik Akita memberi peluang untuk memahami mengapa sebaceous adenitis dan penyakit mirip VKH lebih sering ditemukan pada ras ini. Hasilnya dapat membantu peneliti mengenali faktor risiko, memperbaiki strategi pemuliaan, dan mengarahkan penelitian menuju pemeriksaan yang lebih spesifik.

Bagi pemilik, langkah terpenting saat ini adalah mengenali perubahan kulit dan mata sejak dini, mencari diagnosis dokter hewan, serta menghindari pemberian suplemen tanpa pengawasan. Bagi breeder, transparansi riwayat kesehatan, pengelolaan keragaman genetik, dan partisipasi dalam penelitian merupakan bagian penting dari upaya menjaga masa depan Akita yang lebih sehat.

Sumber:

Kembali ke Daftar Berita Kembali ke Home
Hubungi Customer Service
CS Agung Yudhi
Agung Yudhi

+6285857883435

Status: Available