Kasus gigitan hewan penular rabies di Kota Bima kembali menjadi perhatian. Hingga 3 Agustus 2026, Dinas Pertanian Kota Bima mencatat 110 kasus gigitan anjing. Dari sampel yang diperiksa di Balai Besar Veteriner Denpasar, dua sampel dinyatakan positif rabies.
Informasi tersebut disampaikan Kepala Dinas Pertanian Kota Bima, Abdul Najir, sebagaimana diberitakan Suara NTB pada 6 Agustus 2026. Temuan laboratorium ini menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk memperkuat pemantauan kasus, vaksinasi hewan peliharaan, dan pengendalian populasi anjing liar di wilayah rawan.
Sebagian Besar Gigitan Dilaporkan Berasal dari Anjing Liar
Menurut keterangan Dinas Pertanian Kota Bima, sebagian besar kasus gigitan yang tercatat berasal dari anjing liar. Peningkatan jumlah anjing tanpa pemilik antara lain dikaitkan dengan kebiasaan melepas anjing yang sebelumnya dipelihara untuk menjaga kebun setelah musim panen selesai.
Kelurahan Penaraga dan Rabangodu Utara termasuk wilayah yang menjadi perhatian. Sekitar tujuh warga dilaporkan menjadi korban gigitan anjing liar di kedua kelurahan tersebut. Saat berita sumber diterbitkan, sampel otak anjing telah dikirim ke Balai Besar Veteriner Denpasar dan hasil laboratoriumnya masih ditunggu.
Perlu dibedakan antara jumlah kasus gigitan dan jumlah kasus rabies yang telah dikonfirmasi. Gigitan anjing tidak selalu berarti korban tertular rabies, tetapi setiap paparan dari hewan yang dicurigai harus dinilai oleh tenaga kesehatan secepat mungkin.
Apa yang Harus Dilakukan Setelah Digigit Anjing?
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebut profilaksis pascapajanan sebagai respons darurat setelah seseorang berisiko terpapar rabies. Langkah awal yang dianjurkan adalah mencuci dan membilas luka secara menyeluruh menggunakan sabun dan air mengalir selama sedikitnya 15 menit.
Setelah itu, korban perlu segera mendatangi puskesmas, rumah sakit, atau fasilitas kesehatan lain. Tenaga kesehatan akan menilai jenis luka, lokasi gigitan, kondisi hewan, dan kebutuhan vaksin antirabies maupun imunoglobulin rabies.
Langkah yang perlu dilakukan:
- Jauhkan diri dari hewan agar tidak terjadi gigitan berikutnya.
- Cuci dan bilas luka dengan sabun serta air mengalir selama minimal 15 menit.
- Gunakan antiseptik yang sesuai bila tersedia.
- Segera cari pertolongan medis; jangan menunggu gejala muncul.
- Sampaikan informasi mengenai hewan yang menggigit dan lokasi kejadian kepada petugas.
Jangan mengoleskan cabai, bahan kimia keras, ramuan yang mengiritasi, atau bahan lain yang dapat merusak jaringan luka. Penanganan medis tidak boleh ditunda hanya karena luka terlihat kecil.
Mengapa Rabies Harus Ditangani Serius?
Rabies merupakan penyakit virus yang menyerang sistem saraf pusat. Penularan paling sering terjadi melalui saliva hewan terinfeksi, terutama lewat gigitan atau cakaran. Setelah gejala klinis muncul, rabies hampir selalu berakibat fatal. Namun, penyakit ini dapat dicegah apabila luka segera dibersihkan dan penanganan pascapajanan diberikan secara tepat.
Tanda yang dapat muncul pada anjing terinfeksi tidak selalu sama. Perubahan perilaku mendadak, agresivitas yang tidak biasa, air liur berlebihan, kesulitan menelan, kelumpuhan, atau berjalan tidak terkoordinasi dapat menjadi tanda peringatan. Akan tetapi, diagnosis tidak boleh ditentukan hanya dari penampilan. Pemeriksaan dan pengujian oleh petugas berwenang tetap diperlukan.
Peran Pemilik Anjing dalam Pencegahan Rabies
Pemilik anjing dapat membantu menurunkan risiko penularan dengan memastikan vaksinasi rabies dilakukan sesuai jadwal dokter hewan atau program pemerintah daerah. Anjing juga sebaiknya tidak dilepas berkeliaran tanpa pengawasan.
Beberapa tindakan penting bagi pemilik meliputi:
- menyimpan catatan vaksinasi;
- menggunakan kalung identitas dan tali saat berada di ruang publik;
- segera berkonsultasi dengan dokter hewan ketika perilaku atau kondisi kesehatan anjing berubah;
- tidak menelantarkan anjing setelah tidak lagi digunakan untuk menjaga kebun atau rumah;
- melaporkan hewan yang diduga rabies kepada dinas terkait tanpa mencoba menangkapnya sendiri.
Kasus di Kota Bima mengingatkan bahwa pencegahan rabies membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, tenaga kesehatan, dokter hewan, pemilik anjing, dan masyarakat. Vaksinasi hewan, pemeliharaan yang bertanggung jawab, serta respons cepat setelah gigitan merupakan bagian penting untuk melindungi manusia sekaligus anjing.
Sumber
- Suara NTB, “110 Kasus Gigitan Anjing, Dua Sampel Positif Rabies”, 6 Agustus 2026.
- World Health Organization, “Rabies”.
- World Health Organization, “Rabies vaccinations and immunization”.
Informasi kesehatan dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan atau rekomendasi tenaga kesehatan.